Anak Ogah Nurut Bukan Ancaman Jawabannya. Perhatikan Hal Ini Agar Tak Menyesal Mendidik Mereka

Posted on


Hayo kalau nggak nurut Mama, nanti disuntik Pak Dokter lho! Nurut makanya!

Familiar nggak sih kamu dengan kalimat tersebut? Entah sering kamu dengar saat kecil dulu atau sampai sekarang masih kamu gunakan biar anak lebih menurut. Kalimat-kalimat sejenis itu memang terdengar biasa aja. Tapi tahu kah kamu kalau sebenarnya kalimat itu termasuk ancaman untuk anak-anak? Iya, upaya untuk membuat anak-anak menurut dengan kalimat tersebut sudah termasuk tindakan mengancam secara verbal yang berdampak di perkembangan psikis mereka. Hal ini disampaikan oleh Amelia Paravoti, seorang fisioterapis anak pada utas yang dia tulis di akun twitternya.

1. Melatih anak untuk patuh memang berat. Seringnya emosi orang tua malah kelepasan

Nangis deh anaknya~ via www.parents.com

Di dalam utasnya, Amelia Paravoti mengatakan bahwa menahan emosi saat melihat anak tidak patuh aturan memang berat atau bahkan saat melakukan kesalahan. Salah satu akibat dari emosi yang tak tertahan ini adalah mencari jalan pintas biar anak mau kembali on track. Jalan pintas tersebut ya dengan mengatakan kalimat-kalimat bernada menakuti sampai mengancam. Seperti kalau nggak mau nurut akan disuntik dokter atau kalau makan nggak habis ditakuti ayam peliharaan mati.

2. Saat meminta anak untuk nurut dengan ancaman, sebenarnya langsung terjadi sesuatu di otak mereka. Mari kita cari tahu di bawah ini

Terjadi reaksi langsung di otak mereka – Tang Ming Tung / Getty Images via www.verywellfamily.com

Otak anak terdiri dari dua bagian, upstair brain dan downstair brain. Downstair brain atau otak bawah terdiri dari sitem limbik, dan di sana terdapat amigdala yang menangkap facial expression dan body language. Di sana pula tempat berasalnya reaksi fight or flight. Itu lo semacam situasi yang mengharuskan kita memilih dua pilihan dengan cepat. Saat akan dikejar seekor anjing misalnya.

BACA JUGA :  10 Chat lucu cinta bertepuk sebelah tangan ini bikin nyesek

Nah kalau upstair brain atau otak bagian atas terdiri dari prefontal cortex yang berfungsi untuk executive function. Salah satunya adalah untuk regulasi emosi, berpikir dan lain-lain.

Biar lebih mudah mari kita ibaratkan otak sebagai sebuah rumah

Bagian di dalam otak anak via twitter.com

Jika diibaratkan sebuah rumah, otak bagian bawah merupakan bagian untuk basic needs saja. Sedangkan otak atas untuk keperluan yang lebih rumit. Nah otak bagian bawah ini sebenarnya bisa berkembang sendiri. Bahkan sejak lahir pun otak bagian bawah sudah bisa berfungsi. Sedangkan otak bagian atas sebaliknya. Perlu berbagai usaha untuk mengembangkan fungsi-fungsinya.

Ketika anak mendapatkan kata-kata bernada ancaman, otak bawahlah yang kena untuk pertama kalinya

Kinerja otak itu berkebalikan. Kalau otak atas aktif, otak bawah istirahat. Begitu sebaliknya. Nah kata-kata bernada ancaman, apalagi disertai dengan tindakan kekerasan (mencubit, memukul dan sebagainya) membuat fungsi primitif otaklah yang mengambil alih. Dalam hal ini otak bawahlah yang berkerja paling aktif.

BACA JUGA :  8 Fakta film Gundala Putra Petir produksi 37 tahun lalu, jadul banget

3. Akibatnya apa? Otak bagian atas akan ter-shut down dan nasihat apa pun yang diberikan akan sulit masuk

Makin sering diancam, makin nggak nurut si anak via www.pregnancyandbaby.com.sg

Jika anak-anak terus diancam biar menuruti aturan orang tua, maka otak bagian bawahlah yang aktif. Otak bagian atas akan otomatis menurun fungsinya bahkan ter-shut down. Pada situasi ini, bagian otak bawah yang lebih aktif adalah amigdalanya. Amigdala yang sering digunakan akan menumpulkan fungsi eksekutifnya. Akibatnya, anak jadi berontak, menangis, bahkan susah diatur karena terjadi ketimpangan kerja otak.

4. Jadi membuat anak biar nurut pada orang tua jelas bukan dengan cara mengancamnya. Masih ngeyel? Marah dan usahamu akan sia-sia jadinya

Mengancam biar anak nurut jelas bukan jawabannya via www.care.com

Sama seperti pepatah banyak jalan menuju Roma, mengancam atau menakut-nakuti anak bukan satu-satunya cara agar mereka bisa menuruti aturan orang tuanya. Kalau pun para mama papa tetap nekat dengan alasan agar anak lebih disiplin ya siap-siap saja kalau nggak akan berhasil pada akhirnya. Yang ada anak malah jadi takut pada orang tuanya sendiri.

BACA JUGA :  Ingin siswa sukses pasca lulus, ini yang Rudy Hadisuwarno ajarkan

5. Kalau ingin tumbuh jadi anak penurut, ada cara lain yang lebih mendidik dan nggak bikin mereka ketakutan. Ini dia!

Peluk dan rangkul mereka – Pict by Flickr/amrufm via www.fatherly.com

Salah satu cara yang paling sederhana adalah duduk dan bicara baik-baik dengan si anak. Meski anak masih kecil tapi gestur duduk dan merangkul anak akan membuat mereka nyaman dan nggak takut. Menatap mata anak juga memberikan rasa aman pada mereka, sehingga apa yang mama dan papa jelaskan bisa lebih diperhatikan anak. Kalau pun anak malah balik marah, menangis bahkan tantrum, tunggu dulu sampai selesai. Sebab duduk dan bicara saat anak lagi “badai emosi” juga akan berakhir sia-sia.

Proses mendidik anak memang nano-nano rasanya. Apalagi kalau ini merupakan pengalaman pertamamu sebagai orang tua. Semoga tulisan ini bisa menjadi temanmu saat mendidik buah hati tercinta ya. Semoga juga kamu dan pasangan bisa menjadi orang tua yang mampu menahan emosi dan memperhatian ucapan serta cara penyampaiannya.

Nggak mau kan anak-anakmu nanti jadi takut sama orang tuanya?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *